Minggu, 29 April 2012



Menjejaki Kehidupan Kampung Nelayan,Belawan
(Perjalanan Kelompok 4 dalam melakukan penelitian)







Hiruk pikuk sepanjang perjalanan menuju kampung nelayan sangat terasa sejak menemani perjalanan kami ke Kampung Nelayan dari Kota Medan,ribuan kendaraan berlalu lalang dijalan raya baik mobil minibus,sepeda motor,angkutan umum maupun truk-truk berlomba-lomba untuk melakukan aktivitas mereka seperti biasa.Asap kendaraan dimana-mana menyebabkan susah bernafas,ditambah lagi dengan banyaknya pabrik-pabrik industry disepanjang  jalanan menyebabkan polusi dan aroma tak sedap bercampur menjadi satu.

Belawan merupakan jalan tercepat satu-satunya menuju Kampung Nelayan,Banyak kapal-kapal motor milik warga sekitar terapung dipinggiran pelabuhan kecil menunggu pembayaran uang ongkos dari para penumpang yang berlalu lalang dari Belawan menuju Kampung Nelayan atau sebaliknya.Itu adalah aktivitas para supir kapal motor setiap harinya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai menuju Kampung Nelayan dari Belawan,tidak sampai membutuhkan waktu 10 menit.Sesampainya disana terasa aroma tak sedap lagi ditambah lagi dengan keadaan pemukiman yang sangat tidak baik.Kotor,kumuh,bau,tak teratur,itulah pandangan pertama yang terlihat oleh mata kami
Papan-papan yang sudah berumur tua dan yang didesain sedemikian rupa serta apa adanya itulah yang menjadi jalan raya mereka untuk melalui seluruh seluk beluk Kampung Nelayan itu.Tidak seperti mereka yang tinggal di daratan, jalan kaki bisa saja tidak melihat kebawah,namun yang ada di Kampung Nelayan ini,kaki-kaki kami yang berjalan harus ekstra hati-hati,khususnya yang baru pertama sekali datang.Salah melangkah dapat membuat kaki terperosok ke sela-sela jalan raya mereka.
Diam dan membisu,mata saling memandang tak tahu kemana lagi melangkah.Dan kami pun memutuskan untuk mengelilingi Kampung Nelayan itu. Berpasang-pasang mata melihat setiap langkah kaki kami.Siapakah gerangan mereka? Mungkin itulah yang ada didalam benak pikiran mereka.
Sangat miris melihat keadaan kehidupan mereka.Mungkin mereka sudah terbiasa hidup seperti itu.Namun apakah kehidupan mereka sejahtera? Bangunan rumah sungguh memprihatinkan,ditambah lagi dengan lingkungan yang kotor yang dapat mengancam kesehatan mereka.Terpikir dalam benak pikir kami,apakah jika aku ada dipihak mereka dapat hidup seperti ini?Kehidupan yang serba lengkap diperkotaan tiba-tiba hidup di Kampung Nelayan.Sungguh tak terbayangkan lagi bagi kami.
 Ditengah-tengah pemukiman,saat kami sedang meliput keadaan sekitar,terlihat satu sekolah.Satu-satunya sekolah yang ada di Kampung Nelayan dan itu hanyalah sekolah dasar. SMP dan SMA tidak ada,mereka yang sekolah di tingkat SMP dan SMA harus keluar kampung untuk menjenjang pendidikan yang lebih tinggi.Saat kami hendak melihat sekolah dasar itu,ternyata ada tiga orang anak-anak yang sudah pulang sekolah.Mereka adalah “guide” kami sepanjang perjalanan.Mereka menemani kami ke sekolah dasar tempat mereka belajar.
Tawa dan canda anak-anak terlihat disepanjang koridor sekolah itu.Ternyata sekolah itu mempunyai dua jadwal dalam satu hari.Ada sekolah pagi dan ada sekolah siang.Ini disebabkan karena hanya ada satu sekolah ditempat itu.Tidak sebanding dengan kehadiran anak-anak yang ada.Sehingga mereka harus membagi waktu belajar mereka.
Sejauh mata memandang,Nampak anak-anak yang sekolah pagi sudah bermain kotor-kotoran karena sudah pulang sekolah.Mereka berenang-renang dipinggiran sekolah dengan mengenakan pakaian sekolah mereka.Kami pun kembali melangkah untuk mencari sumber wawancara dan akhirnya kami pun mewawancarai seorang ibu-ibu yang sedang membersihkan ikan untuk dimasak.Disekitar itu ada tempat termenung  ( toilet umum) tepat dipinggir perumahan dan pembuangannya adalah laut itu.Bukankah itu sangat kotor? Sementara sekitar 50 meter terdapat anak-anak sekolah yang sedang berenang-renang.Apa yang terpikirkan? Rasa jijik timbul dalam benak kami,namun bagi mereka itu adalah hal yang biasa.
Setelah selesai mewawancarai salah satu warga sekitar,kami pun melanjutkan langkah kami ditemani tiga “guide” cilik ke rumah kepala lingkungan Kampung Nelayan itu.Kami pun kembali melakukan wawancara dengan kepala lingkungan tersebut untuk mencari informasi-informasi tentang kehidupan warga Kampung Nelayan.
Pulang tanpa hasil memang sia-sia,namun kami berhasil melakukan tugas kami dengan baik.Mendapatkan apa yang kami harapkan itulah yang terjadi.Namun itu bukanlah suatu formalitas bagi kami untuk melengkapi keperluan tugas kampus,tetapi proses pembelajaran untuk menjadi seorang pekerja social yang professional dengan langsung turun tangan ke masyarakat dan turut merasakan apa yang mereka rasakan.
Realita kehidupan Kampung Nelayan memang belum mencapai standard kesejahteraan yang layak dan sesuai dengan harkat dan martabat manusia.Dari segi kecilnya yaitu kondisi rumah dan lingkungan yang kotor sangat tidak baik ditambah lagi tempat tinggal mereka yang berada di tengah-tengah lautan lepas yang dapat mengancam kehidupan mereka sewaktu-waktu.
Memecahkan solusi kehidupan Kampung Nelayan bukanlah hal yang mudah.Dan itu merupakan suatu masalah yang besar.Kehidupan ditengah lautan yang dapat mengancam kehidupan mereka seharusnya menjadi perhatian khusus oleh pemerintah.Memindahkan kehidupan masyarakat Kampung Nelayan bukanlah suatu hal yang mustahil,tetapi sangat sulit.Mengingat keadaan didaratan tidak ada tanah yang tersedia lagi bagi masyarakat.Semua kawasan dijadikan pusat industry.Kemudian masyarakat juga akan kehilangan pekerjaan apabila terjadi pemindahan.Inilah yang menjadi pandangan utama terhadap perubahan kehidupan Kampung Nelayan.
Kampung Nelayan merupakan kawasan khusus Binaan kerja sama PT.PLN Wilayah II Sumut dan Kanwil Depsos I Sumut,tetapi kehidupan mereka seperti tak terbina.Seharusnya instansi yang terkait harus lebih memerhatikan pola hidup masyarakat Kampung Nelayan jika tak ingin dipindahkan.Kanwil Depsos I Sumut tentunya merupakan ahli dalam masalah seperti ini,karena itu merupakan tugas utama Depsos dalam menganalisa dan memecahkan masalah social yang ada di Sumut.
Pembinaan masyarakat Kampung Nelayan secara serius merupakan solusi yang paling tepat terhadap perubahan pola hidup mereka seperti menata ulang atau merehabilitasi tatanan pemukiman Kampung Nelayan yang baik dan bersih agar kehidupan masyarakat lebih baik dan sehat.Pelayanan-pelayanan social seperti pendidikan,kesehatan juga ditingkatkan demi tercapainya masyarakat Kampung Nelayan yang sejahtera sesuai dengan harkat dan martabat manusia.  

Kelompok 4 : Ayu Lestari,Sartika Ika,Raja Metar,Adriana Siregar,Riza Pahlevi,Yohanna Purba,Erlince Situmorang, Hana Anggreani,  Ceskus & Josua Hutabarat


1 komentar:

  1. horas ito.....boleh minta no telpon, kebetulan ada tugas kuliah saya mengenai kampung nelayan belawan.....(Erika Mayessi Hutabarat___08126396741)

    BalasHapus