Kata yang singkat tetapi memiliki makna yang sangat dalam tentunya.Tepat tanggal 22 Desember 2010 merupakan Hari Ibu se-Indonesia. Tapi apakah yang didapatkan oleh berjuta jiwa wanita Indonesia sebagai Ibu?
Apakah tanggal 22 Desember 2010 ini
hanyalah sekedar perayaan bagi seseorang Ibu tanpa pemaknaan yang
sesungguhnya?Tentunya pertanyaan ini kita jawab secara pribadi kita di dalam
sebuah keluarga.Tetapi di dalam negara kita ini,negara Indonesia apakah
pemaknaannya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan para Ibu Inonesia?Apakah
sudah maksimal?
Di Indonesia ini para wanita
khususnya para Ibu selalu dikatakan kaum manusia kelas dua, sementara para kaum
lelaki berada di kelas atas atau kelas satu. Keadaan para Ibu ini disebabkan
karena adanya sub-ordinasi yaitu suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu
peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.Ini
sudah ada sejak manusia ada dan akan terus ada selama manusia masih ada. Nilai
ini sudah memilah-milah atau membeda-bedakan peran wanita dan lelaki,ini
merupakan realita hidup manusia yang terjadi saat ini,selalu ada pembedaan yang
dapat menyebabkan kesenjangan sosial contohnya adanya konflik antara para Ibu
dan para suami di dalam rumah tangga bahkan terjadinya lapisan di dalam sebuah
keluarga,sang Ayah yang kadang kala seorang diktator dan Ibu hanya melaksanakan
segala perintah yang disampaikan oleh sang Ayah.Ibu hanya dianggap bertanggung
jawab hanya dalam keluarga dan hanya memiliki peran dalam urusan domestik
(keluarga) atau reproduksi, sementara sang Ayah memiliki urusan publik
(kepentingan umum) atau produksi (pencari nafkah utama).
Hal ini telah membuat kaum Ibu
semakin termarginalkan, seorang Ibu tak mempunyai hak untuk melakukan kegiatan
yang biasa dilakukan oleh suaminya. Tapi coba kita lihat pada saat ini, para
Ibu telah memiliki beban ganda diantara rumah tangga dan di luar rumah tangga. Mereka
hanya ingin bangkit dari marginilisasi,tetapi apa yang mereka lakukan belum
seperti apa yang diharapkan.Seorang Ibu yang memiliki beban ganda sebagai pencari nafkah tambahan, pekerjaannya
saat ini sangat menyedihkan. Kita contohkan para Ibu yang bekerja sebagai buruh
pabrik yang rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan resmi dari
perusahaan tempat ia bekerja, bagaimana ia dapat memenuhi hidupnya dan
anak-anaknya sementara jaminan pekerjaan tidak ada dan bagaimana kalau seorang
Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga bagi yang tidak memiliki suami lagi?
Kemudian seorang Ibu yang bekerja
sebagai pekerja rumah tangga yang sering di anggap “pembantu” juga sangat berpengaruh terhadap
upahnya lantas hanya karena pekerja rumah tangga.
Saat ini juga dapat kita lihat
pekerjaan trend yang banyak dilakukan oleh para Ibu Indonesia,mereka merantau
ke negara tetangga untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) seperti negara
Malaysia, Arab Saudi dan negara lainnya. Mereka rela meninggalkan anak-anaknya
demi sesuap nasi untuk dikirim ke kampung halamannya di Indonesia.
Tapi apakah semua ini berjalan dengan
lancar dan sesuai apa yang kita harapkan? Tidak semua tentunya. Sebagian dari
mereka menjadi pembantu bukan pekerja rumah tangga. Terbukti banyaknya
kekerasan yang dilakukan oleh majikan-majikan terhadap para Ibu Indonesia. Dan
kekerasan yang mereka lakukan pun tidak tanggung-tanggung, banyak yang menjadi
korbannya menjadi cacat fisik bahkan ada juga yang sampai cacat mental akibat
trauma terhadap kekerasan yang dilakukan terhadapnya.
Inilah wujud perjuangan para Ibu
Indonesia sebagai Ibu rumah tangga yang memiliki beban ganda yang mencari
nafkah untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya tentunya
Bukan di luar negeri saja para Ibu
mendapatkan kekerasan, bahkan di ruang lingkupnya sendiri juga masih ada yaitu
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).Banyak dari mereka yang mendapatkan
kekerasan sampai saat ini,ada yang babak belur dihajar oleh suaminya bahkan ada
yang sampai meninggal dunia.Semua ini disebabkan karena wanita itu dianggap tak
berdaya. Sungguh tragis bukan keadaan sebagian dari pada Ibu Indonesia.
Tetapi di balik termarginalkannya
para Ibu di Indonesia,ternyata seorang Ibu itu bisa menjadi seorang panutan, seorang
pemimpin. Bukan pemimpin biasa tetapi pemimpin negara contohnya yaitu Ibu
Megawati Soekarno Putri, seorang wanita yang mewakili berjuta jiwa Ibu
Indonesia untuk ikut aktif dalam berperan apa pun bahkan untuk mengangkat
martabat para Ibu Indonesia.
Hal ini sudah cukup untuk membuktikan
bahwa kaum Ibu ataupun kaum wanita tidaklah lemah atau tidak berdaya, tetapi
bagaikan seseorang yang tak tampak karena tertutupi oleh kabut.
Penulis adalah mahasiswa Ilmu
Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Sumatera Utara 2010











